‎Pentingnya Penerapan Budaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Dunia Industri – FAJAR Malteng
Opini

‎Pentingnya Penerapan Budaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Dunia Industri

hafis-makayaino
OLEH: HAFIS MAKAYAINO, S.KEP.,M.KKK.*

KESEHATAN dan keselamatan kerja (K3), merupakan salah satu aspek perlindungan bagi tenaga kerja yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 dengan menerapkan teknologi pengendalian K3, dan diharapkan semua tenaga kerja akan mencapai ketahanan fisik, daya kerja dan tingkat kesehatan yang tinggi. Disamping itu implementasi K3 sebagai upaya perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap risiko cidera yang terkait dengan pekerjaan.

Dalam sistim manajemen K3, bahaya dan risiko dari aktivitas pekerjaan itu menjadi parameter utama. Bukan hanya untuk diidentifikasi dan melakukan penilaian terhadap potensi bahaya.

fajar-malteng-apps-android

Bahkan perlu melakukan tindakan pencegahan untuk menghilangkan potensi dan risiko yang muncul ditempat kerja yang tentunya dengan menciptakan lingkungan kerja yang sehat, aman dan selamat yang menjadi tujuan akhir dari penerapan sistim.

Meskipun ketentuan mengenai K3 telah diatur, namun dalam praktiknya tidak seperti yang diharapkan. Banyak faktor lapangan yang mempengaruhi kesehatan dan keselamatan kerja seperti manusia, lingkungan dan psikologis. Selain itu, masih banyak perusahaan yang tidak memenuhi standar K3 sehingga menimbulkan banyak kecelakaan kerja yang disebabkan karena perilaku tidak aman (unsafe act) yang ditunjukkan oleh pekerja.

Kebanyakan perusahaan menilai aspek K3 hanya sebagai program pelengkap yang dipasang di setiap papan pekerjaan proyek. Namun implementasi belum sepenuhnya dilakukan, hal ini masih dianggap sebagai suatu program yang hanya mengurangi pendapatan perusahaan. Padahal jika terjadi kecelakaan kerja sampai dengan kecacatan dan meninggal dunia, pihak perusahaan tentu akan mengeluarkan pembiayaan yang cukup banyak untuk melakukan ganti rugi dan jaminan keselamatan yang sudah tentu jauh lebih besar biayanya jika dibandingkan dengan pengadaan peralatan pelindung diri.

Penerapan manajemen K3 yang berjalan masih bersifat program dan belum menunjukkan suatu perilaku dan budaya. Kebanyakan kecelakaan kerja yang menimpa pekerja di industri disebabkan karena selain kurangnya pengetahuan juga tidak menggunakan peralatan pelindung diri walaupun beberapa yang telah disiapkan oleh perusahaan. Alasan utama sering karena faktor kebiasaan dan kondisi tidak aman (unsafe condition).

Perilaku ini sering menyebabkan kecelakaan kerja bahkan berujung maut, sehingga untuk mencegah insiden tersebut, perlu dilakukan upaya pengendalian secara dini baik faktor manusia, peralatan maupun lingkungan.

Bila ditinjau dalam penerapan manajemen K3 di dunia kerja, setiap pekerjan memiliki risiko baik fisik maupun psikis. Oleh karena itu jika perusahaan tidak melakukan pengendalian dini maka pembiayaan ganti rugi akan menelan biaya yang cukup besar. Sebagian manager perusahaan belum memahami sepenuhnya tentang pentingnya perilaku K3 yang ditekankan kepada pekerja, agar datang dengan sehat dan pulang dengan selamat sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan yang menerangkan bahwa,  setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas kesehatan, keselamatan dan pemeliharaan moril kerja serta perlakuan yangs esuai dengan harkat dan martabat manusia.

Oleh karena itu, perlu kesadaran agar membudayakan K3 sedini mugkin dari semua komponen. Peningkatan peran dan persepsi positif agar K3 tidak hanya dijadikan sebagai program tapi wujud budaya yang kiranya perlu diterapkan didunia kerja.

Indikator budaya K3 yang dipergunakan hendaknya tidak bersifat tunggal dan perlu meliputi aspek pekerja dan perusahaan, terutama manajemen dan penerapannya secara konsisten agar terciptanya Basic Behaviour Safety. (*)

*PENULIS ADALAH ALUMNI MAHASISWA PA

Komentar

comments

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top